bp bk smp Selamat Datang di blog Kami. Silahkan Browsing dan Cari data anda
bp bk lengkap

contoh proposal model Dalam pembelajaran kooperatif

Minggu

contoh proposal model Dalam pembelajaran kooperatif


JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK

HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami Disini


I.       PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan pada hakikatnya adalah proses kegiatan yang berwujud perbuatan. Perbuatan yang dimaksud dilakukan manusia untuk membina dan membentuk anak sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Di dalam GBHN tahun 1973 (Ihsan, 2008: 5) disebutkan bahwa “pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup”. Sesuai dengan isinya bahwa pendidikan adalah upaya untuk meningkatkan derajat manusia, maka tujuan pendidikan harus dirumuskan secara jelas dan tepat. 
Tujuan pendidikan mengarahkan pada pembentukan manusia Indonesia seutuhnya. Hal ini dijelaskan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (2009: 5) menjelaskan bahwa:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.


1
 
Dalam pandangan siswa SD secara umum, mata pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang susah dimengerti. Indikasi yang paling mudah ditemukan adalah hasil belajar siswa yang cenderung kurang memuaskan, terutama pada perolehan nilai yang rata-rata dibawah pelajaran lain. Rendahnya perolehan hasil belajar matematika siswa nampak pada capaian ketidaklulusan siswa yang sebagian besar disebabkan oleh tidak tercapainya nilai batas lulus yang telah ditetapkan. Hal ini bukan berarti siswa tidak memiliki kemampuan dalam matematika, tetapi masih banyak unsur-unsur yang terkait dengannya diantaranya adalah guru.
Guru sebagai salah satu pemeran utama dalam pembelajaran haruslah professional dalam bidangnya agar dapat menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pendidik sekaligus sebagai pengajar yang berkompeten. Untuk itu guru harus menguasai bahan yang diajarkan, terampil mengajarkannya, dan mampu mengatasi berbagai kendala yang ditemui dalam pembelajaran. Salah satu hal yang dapat dilakukan guru adalah mampu memilih dan menggunakan dengan tepat metode, model dan media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, dan karakteristik siswa agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai secara optimal.
Dalam konteks yang aplikatif, proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan antara guru dan siswa memegang peranan penting. Menurut Subyosubroto (Estiningrum, 2005:19) menyatakan bahwa:
Proses belajar mengajar meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan, sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yaitu pengajaran. 

Matematika sebagai mata pelajaran pada semua pendidikan formal dipandang sebagai mata pelajaran yang memegang peranan penting. Pendidikan matematika merupakan landasan dan kerangka pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menyadari pentingnya pelajaran matematika, telah banyak usaha yang dilakukan oleh pemerintah, diantaranya melengkapi sarana dan prasarana, meningkatkan kualitas tenaga pendidik, pembaharuan pendekatan dalam pembelajaran serta pengembangan dan perbaikan kurikulum. Namun untuk mencapai hasil belajar yang diharapkan, tidaklah semudah yang kita inginkan. Hal ini terbukti dengan masih rendahnya pemahaman siswa yang tergambar melalui prestasi belajar khusunya pada mata pelajaran matematika.
Adanya kecenderungan proses pembelajaran matematika yang terpusat pada guru. Demikian halnya yang terjadi dalam pembelajaran matematika di sekolah, khusunya di SD Inpres Bertingkat Bara-Baraya. Berdasarkan hasil observasi awal yang telah dilakasanakan pada hari Senin tanggal 8 April 2013 menunjukkan rendahnya kualitas proses dan hasil belajar matematika siswa kelas V. Dari hasil pengamatan menujukkan rendahnya hasil belajar matematika siswa kelas V sebabkan oleh beberapa faktor baik dari guru maupun siswa, diantaranya (1) masih banyaknya siswa yang pasif dalam proses pembelajaran (2) kurangnya minat dan motivasi siswa dalam menerima materi pembelajaran (3) rendahnya pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan, (4) proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru kurang mengaktifkan siswa, (5) penggunaaan media dan penerapan model pembelajaran yang belum maksimal, (6) pengelolaan kelas yang masih kurang.
Melihat kondisi yang demikian, akhirnya peneliti memberikan solusi alternatif dalam proses pembelajaran melalui penerapan model dan penggunaan media pembelajaran yang dapat menunjang proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran yang diinginkan dapat tercapai. Salah satu model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa, membentuk tutor sebaya dan mampu membantu siswa dalam memahami pembelajaran adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Selain itu peneliti juga menggunakan media pembelajaran tiga dimensi dimaksudkan agar siswa dapat lebih memahami materi pembelajaran. Menurut Roger dkk (Huda, 2012: 29) menyatakan bahwa: 
Cooperative learning is group learning activity organized in such a way that learning is based on the socially structured change of information between learners in group in which each learner is held accountablefor his or her own learning and is motivated to increase the learning of others (pembelajaran kooperatif merupakan aktivitas pembelajaran kelompok yang diorganisiroleh suatu prinsip bahwa pembelajaran harus didasarkan pada perubahan informasi secara sosial diantara kelompok-kelompok pembelajaran yang di dalamnya setiap pembelajar bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri dan didorong untuk meningkatkan pembelajaran anggota-anggota yang lain).

Model pembelajaran kooperatif dimaksudkan untuk lebih memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk meningkatkan aktivitas siswa agar benar-benar merasa ikut ambil bagian dan berperan aktif dalam proses belajar mengajar. Daryanto dan Rahardjo (2012) dengan pemilihan model pembelajaran dan media pembelajaran diharapkan adanya perubahan dalam mengingat (memorizing) atau menghafal (rote learning) kearah berpikir (thinking) dan pemahaman (understand) sehingga nantinya siswa tidak mengalami kebingungan dalam mengerjakan soal yang berbeda-beda. Artz dan Newman (Huda, 2012: 32) mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai “kelompok kecil pembelajar/siswa yang bekerja sama dalam satu tim untuk mengatasi suatu masalah, menyelesaikan sebuah tugas, atau mencapai tujuan bersama”.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran kelompok yang bertujuan untuk menyelesaikan tugas/masalah secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD siswa diberikan kesempatan untuk mendiskusikan tugas yang diberikan dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumalah tiap anggotanya terdiri dari 4-5 orang siswa secara heterogen. Slavin (Trianto, 2012: 68) menyatakan bahwa “pada STAD siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan 4-5 orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku”. Seperti halnya pembelajaran lainnya pembelajaran STAD ini juga membutuhkan persiapan yang matang sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Persiapan-persiapan tersebut antara lain, “(1) perangkat pembelajaran, (2) membentuk kelompok kooperatif, (3) menentukan skor awal, (4) pengaturan tempat duduk, dan (5) kerja kelompok” (Trianto, 2012: 69).
Selain model pembelajaran, media pembelajaran juga berfungsi sebagai alat bantu dalam proses belajar dan pembelajaran yang tidak bisa kita pungkiri keberadaannya. Secara umum manfaat media pembelajaran dalam proses pembelajaran adalah memperlancar interaksi guru dan siswa sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih efektif dan efisien. Salah satu media pembelajaran yang dapat menunjang proses pembelajaran matematika adalah media pembelajaran tiga dimensi.
Utamy (2012) media pembelajaran tiga dimensi adalah suatu media yang tampilannya dapat dilihat dari segala arah, baik dari depan, belakang, kanan, kiri, atas maupun bawah yang mempunyai dimensi panjang lebar serta tinggi atau tebal. Pengguanaan media pembelajaran tiga dimensi dimaksudkan agar siswa dapat melihat secara langsung objek sesungguhnya atau miniatur suatu objek, sehingga siswa tidak hanya berimajinasi atau berkhayal mengenai objek yang dijelaskan oleh guru ((http://suciayuutamy.blogspot.com/2012/12/media-pembelajaran-3d_26.html) diakses pada tanggal 14 April 2013 pukul 8:10 WITA).
Dengan penerapan model pembelajarn kooperatif tipe STAD dan penggunaan media pembelajaran tiga dimensi nantinya diharapkan akan meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga hasil belajar siswa khususnya mata pelajaran matematika dapat meningkat, karena salah satu fungsi dterapkannya model pembelajaran kooperatif dan penggunaan media pembelajaran tiga dimensi adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa, baik kemampuan dalam aspek pengetahuan, sikap maupun keterampilan.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dengan Menggunakan Media Pembelajaran Tiga Dimensi untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika pada Siswa Kelas V SD Inpres Bertingkat Bara Baraya”.
B.     Rumusan dan Pemecahan Masalah
1.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dibahas sebelumnya, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan menggunakan media pembelajaran tiga dimensi untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas V SD Inpres Bertingkat Bara Baraya”.
2.      Pemecahan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah, maka penulis selaku peneliti merancang pemecahan masalah dengan menerapkan salah satu tipe model pembelaran kooperatif, yaitu Student Team Achievement Division (STAD) dan media pembelajaran tiga dimensi yang dilaksanakan dengan prosedur dalam penelitian tindakan kelas (PTK). Dengan penerapan model dan media pembelajaran tersebut diharapkan agar proses pembelajaran di dalam kelas semakin meningkat karena siswa dapat saling membelajarkan melalui tukar pikiran, pengalaman, dan gagasan-gagasan.
C.    Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar matematika dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan menggunakan media pembelajaran tiga dimensi pada siswa kelas V SD Inpres Bertingkat Bara-Baraya.
D.    Manfaat Penelitian
Hasil penelitian diharapkan mampu memberikan manfaat, diantaranya yaitu:
1.      Manfaat Teoritis
a.       Sebagai informasi bagi guru-guru di Sekolah Dasar tentang pentingnya penerapan model pembelajaran khususnya model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan penggunaan media pembelajaran dalam mendukung proses pembelajaran matematika.
b.      Sebagai bahan pertimbangan kedepannya dalam membuat perencanaan proses pembelajaran, sehingga memperluas pengetahuan dalam mengenal model dan media pembelajaran yang lebih kreatif.
c.       Dapat memberikan alternatif model dan media pembelajaran serta cara menerapkannya maupun menggunakannya sesuai dengan perencanaan pembelajaran apabila nantinya telah menjadi seorang tenaga pendidik.
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi guru, dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan menggunakan media pembelajaran tiga dimensi untuk menunjang prose pembelajaran agar lebih menarik dan efektif.
b.      Bagi siswa, dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan penggunaan media pembelajaran tiga dimensi dapat memotivasi siswa untuk lebih bersemangat dalam belajar matematika sehingga hasil belajarnya meningkat.
c.       Bagi peneliti, merupakan pengalaman berharga dalam memperluas wawasan keilmuan dalam rangka meningkatkan kualitas keilmuaanya sehingga menambah khasanah ilmu pengetahuan dan menjadi sumber bacaan bagi peneliti berikutnya.



II.                KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A.    Kajian Pustaka
1.      Pengertian Model Pembelajaran 
Agar pembelajaran matematika dapat diserap dan dipahami oleh siswa dengan baik, selain diperlukan strategi pembelajaran, guru juga perlu dalam memilih metode dan model yang dipandang tepat dan sesuai dengan kondisi sisiwa. Model pembelajaran dimaksudkan adanya intrekasi yang terjadi antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran yang menyangkut strategi, pendekatan, metode, dan teknik pembelaharan yang diterapkan dalam pelaksanaan belajar mengajar di dalam kelas. Menurut Seokamto, dkk (Trianto, 2012: 22) menyatakan bahwa 
Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.

Pendapat lain tentang pengertian model pembelajaran dikemukakan oleh Joyce dan Weil (Azhmi, 2011: 13) “model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing di kelas atau yang lain.”

9
 
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah suatu prosedur atau pola pembelajaran yang digunakan oleh guru sebagai pedoman dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas yang menyangkut strategi, pendekatan, motode dan teknik pembelajaran.
Beberapa model pembelajaran menurut Suprijono (Ilmi, 2011) antara lain adalah model pembelajaran langsung (direct instruction), model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dan model pembelajaran berbasis masalah (problem based instruction)
a.       Model Pembelajaran Langsung
Pengajaran langsung adalah suatu model pengajaran yang bersifat teacher center.Menurut Arends (Trianto, 2012: 41) menyatakan bahwa 
Model pembelajaran langsung adalah salah satu pendekatan mengajar yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan procedural yang terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan bertahap, selangkah demi selangkah.

b.      Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama untuk mencapai tujuan pembelajaran.
c.       Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Pentingnya pemahaman konsep dalam proses belajar mengajar sangat mempengaruhi sikap, keputusan, dan cara-cara memecahkan masalah. Pemahan yang dimaksud adalah pemahaman terhadap kemampuan siswa untuk menggunakan pengatahuan tersebut dalam situasi baru. Sebagian besar siswa kurang mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan dimanfaatkan/diaplikasikan pada situasi baru. Sebagai guru yang baik dan bijaksana harus mampu menggunakan model pembalajaran yang berkaitan dengan cara memecahkan masalah (problem solving). Menurut Trianto (2012: 90) mengatakan bahwa 
Model pembelajaran berdsarkan masalah merupakan suatu model pembelajaran yang didasarkan pada banyaknya permasalahan yang membutuhkan penyelidikan autentikyakni penyelidikan yang membutuhkan penyelesaian nyata dari permasalahan yang nyata.

2.      Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran yang mengutamakan kerja sama dalam kelompok ada pada bentuk pembelajaran kooperatif. “Dalam belajar kooperatif, siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari 4 atau 5 orang untuk bekerja sama dalam menguasai materi yang diberikan guru” Slavin (Trianto, 2012: 56).
Di dalam kelas kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang  siswa secara heterogen baik dari prestasi, jenis kelamin, suku/ras, dan satu sama lain saling membantu. Artzt dan Newman (Trianto, 2012: 56) menyatakan bahwa dalam belajar kooperatif siswa belajar bersama sebagai suatu tim dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok untuk  mencapai tujuan bersama dan setiap anggota kelompok mempunyai tanggung jawab yang sama untuk keberhasilan kelompoknya.
Menurut Chotimah (Ilmi, 2011:15) menjabarkan bahwa “pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja sama dengan sesama peserta didik dalam tugas-tugas terstruktur”. Sedangkan menurut Isjoni (Rusminah, 2011: 10) menyatakan bahwa
Cooperative learning adalah suatu model pembelajaran yang saat ini banyak digunakan untuk mewujudkan kegiatan belajar mengajar yang berpusat pada siswa (student oriented), terutama untuk mengatasi permasalahan yang ditemukan guru dalam mengaktifkan siswa, yang tidak dapat bekerja sama dengan orang lain, siswa yang agresif dan tidak peduli pada yang lain.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja sama dengan peserta didik lainnya dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru untuk mencapai tujuan bersama.
Menurut Nur (Daryanto dan Muljo Raharjo, 2012: 242), prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut
a.       Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.
b.      Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompoknya mempuanyai tujuan yang sama.
c.       Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
d.      Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
e.       Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
f.       Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif. 

3.      Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team Achievement Division (STAD)
Pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen. Diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis, dan penghargaan kelompok. Menurut Slavin (Sundari, 2010: 28) menyatakan “ada lima komponen dalam metode pembelajaran Student Teams Achievment Division (STAD), yaitu: (1) presentasi kelas; (2) tim; (3) kuis; (4) skor kemajuan individual; (5) rekognisi tim.” Berikut penjelasan dari lima kompoenen dalam metode tersebut.
a.       Presentasi Kelas
Materi diperkenalkan di dalam kelas melalui presentasi. Kemuadian dilanjutkan pengajaran langsung dengan cara diskusi yang dipimpin oleh guru. Dengan demikian siswa akan lebih berkonsentrasi dalam materi pelajaran
b.      Tim
Tim terdiri dari empat sampai lima orang siswa yang mewakili seluruh bagian kelas dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin, ras dan etnisitas. Fungsinya agar semua anggota kelompok bekerja dengan baik.
c.       Kuis
Kuis dilakukan setelah satu periode guru memberikan presentasi, kemudian siswa diminta untuk mengerjakan kuis individual. Jadi siswa bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
d.      Skor Kemajuan Individual
Skor kemajuan ini digunakan untuk memberikan kepada siswa tujuan kenerja yang dapat dicapai apabila mereka bekerja giat dan memberikan kinerja yang baik dibandingkan dengan sebelumnya.
e.       Rekognisi Tim
Tim ini akan memperoleh penghargaan apabila skor rata-rata mereka mencapai kriteria tertentu.


Tabel 2.1
Fase-Fase Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Fase
Kegiatan Guru
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotovasi siswa.
Fase 2
Menyajikan atau menyampaikan informasi

Menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan mendemonstrasikan atau lewat bahan bacaan.
Fase 3
Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok belajar

Menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya untuk membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
Fase 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
Fase 5
Evaluasi

Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah diajarkan atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya  
Fase 6
Memberikan penghargaan

Mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya mapun hasil belajar individu atau kelompok
Sumber: Ibrahim (Trianto, 2012: 71)
4.      Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Menurut Isjoni (Taniredja dkk, 2012: 64) tipe STAD yang dikembangkan oleh Slavin ini merupakan salah satu tipe kooperatif yang menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran yang diberikan oleh guru guna mencapai prestasi yang maksimal.
Menurut Sharan (Taniredja, 2012:64) strategi pelaksanaan/siklus aktivitas model STAD adalah sebagai berikut:
a.       Siswa dibagi menjadi kelompok yang beranggotakan empat orang yang beragam berdasarkan kemampuan, jenis kelamin dan sukunya.
b.      Guru memberikan pelajaran.
c.       Guru memberikan tugas kepada setiap kelompok untuk dikerjakan dengan anggota kelompoknya. Setiap kelompok memastikan semua anggota kelompoknya bisa menguasai pelajaran/materi tersebut.
d.      Semua siswa menjalani kuis perseorangan tentang materi tersebut. Mereka tidak dapat membantu satu sama lain.
e.       Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang berprestasi
5.      Media Pembelajaran
a.      Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara atau pengantar. Menurut AECT (Association of Education an Communication Technology) (Arsyad, 2002: 3) menyatakan bahwa “media sebagai segala bentuk  dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi”. Lain halnya dengan pendapat dari National Education Association (NEA) (Sidharta, 2005: 5) mengartikan “media sebagai segala benda yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca, atau dibicarakan beserta instrument yang digunakan untuk kegiatan tersebut”. Dari uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa media adalah alat yang dapat menyalurkan atau menyampaikan pesan-pesan pembelajaran.
Sedangkan pembelajaran adalah proses, cara, perbuatan yang menjadikan orang atau makhluk hidup belajar, Kamus Bahasa Indonesia (Sari, 2012: 22). Jadi media pembelajaran adalah cara penyalur suatu pesan atau informasi yang digunakan oleh guru kepada siswanya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Jika media pembelajaran dapat digunakan dengan baik dapat menjadikan siswa termotivasi dalam pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien serta hakikat dari media pembelajaran yaitu untuk menyalurkan pesan-pesan pembelajaran benar-benar memenuhi fungsinya.
b.      Macam-Macam Media Pembelajaran
Menurut Setyosari dan Sihkabudden (Rozaqmuala, 2012) pengelompokan media pembelajaran berdasarkan ciri fisik dan bentuknya dapat dikelompokkan menjadi empat macam yaitu:
1)      Media pembelajaran dua dimensi (2D), yaitu media yang tampilannya dapat diamati dari satu arah pandang saja yang hanya dilihat dari dimensi panjang dan lebarnya saja. Misalnya foto, grafik, peta, gambar, papan tulis dan semua media yang hanya dilihat dari sis datar saja.
2)      Media pembelajaran tiga dimensi (3D), yaitu media yang tampilannya dapat diamati dari arah pandang mana saja yang mempunyai dimensi panjang, lebar, dan tinggi/tebal. Media ini juga tidak menggunakan media proyeksi dalam pemakaiannya. Kebanyakan media tiga dimensi ini merupakan objek yang sesungguhnya (real object) atau miniature suatu objek dan bukan foto, gambar atau lukisan. Beberapa contoh media 3D adalah model, prototype, bola, kotak, meja, kursi, mobil, rumah, gunung, dan alam sekitar.
3)      Media pandang diam (still picture), yaitu media menggunakan media proyeksi yang hanya menampilkan gambar diam pada layar. Misalnya foto, tulisan, gambar binatang atau gambar alam semesta yang diproyeksikan ke dalam kegiatan pembelajaran.
4)      Media pandang gerak (motion picture), yaitu media yang menggunakan media proyeksi yang dapat menampilkan gambar bergerak dilayar, termasuk media televise, film, atau video recorder termasuk media pandang bergerak yang disajikan melalui layar monitor di komputer atau layar LCD dan sebagainya (http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2256715-macam-macam-media-pembelajaran/  di akses pada tanggal 14 April jam 8.13 WITA).
c.       Manfaat Media pembelajaran
Secara umum manfaat dari penggunaan media pembelajaran adalah untuk memperlancar proses pembelajaran khusunya interaksi antara guru dan siswa sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih efektif dan efisien. Tetapi secara khusus ada beberapa manfaat dari media pembelajaran seperti yang diungkapkan oleh Sudjana dan Rivai (Arsyad, 2002: 24) mengemukakan manfaat media pembelajaran dalam prose belajar siswa, yaitu:
1)      Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa, sehinggan dapat menumbuhkanmotivasi belajar;
2)      Bahan pembalajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pembelajaran;
3)      Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi kalau guru mengajar pada setiap mata pelajaran;
4)      Siswa data lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, memerankan dan lain-lain.

Sedangkan menurut Encyclopedia of Educational Research (Arsyad, 2002: 25) merincikan manfaat media pembelajaran sebagai berikut:
1)      Meletakkan dasar-dasar konkret untuk berpikir, oleh karena itu mengurangi verbalisme.
2)      Memperbesar perhatian siswa
3)      Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar, oleh karena itu membuat pelajaran lebih mantap.
4)      Memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri dikalangan siswa.
5)      Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinyu, terutama melalui gambar hidup.
6)      Membantu tumbuhnya pengertian yang dapat membantu perkembangan berbahasa.
7)      Memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain, dan membantu efisiensi dan keragamanyang lebih banyak dalam belajar. 

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa manfaat media pembelajaran sangat banyak diantaranya media pembelajaran dapat memotivasi siswa dapat pembelajaran, memperjelas penyajian informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar siswa, dan dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang dan waktu.



6.      Media Pembelajaran Tiga Dimensi
a.      Pengertian Media Pembelajaran Tiga Dimensi
Media pembelajaran tiga dimensi adalah media yang tampilannya dapat diamati dari arah pandang mana saja dan mempunyai dimensi panjang, lebar dan tinggi/tebal. Kelompok media ini dapat berwujud sebagi benda asli baik hidup maupun mati, dan dapat pula berwujud sebagai tiruan dan mewakili aslinya. Menurut Santyasa (2007: 15) “media tiga dimensi adalah sekelompok media tanpa proyeksi yang penyajiannya secara visual tiga dimensional”. Media tiga dimensi yang dapat diproduksi dengan mudah adalah tergolong sederhana dalam penggunaan dan pemanfaatannya, karena tanpa memerlukan keahlian khusus, dapat dibuat langsung oleh guru dan bahannya mudah diperoleh di lingkungan sekitar.
Moedjiono (Santyasa, 2007) mengatakan bahwa, media sederhana tiga dimensi memiliki kelebihan-kelebihan yaitu: (1) memberikan pengalaman secara langsung, penyajian secara kongkrit dan menghindari verbalisme, (2) dapat menunjukkan objek secara utuh baik konstruksi maupun cara kerjanya, (3) dapat memperlihatkan struktur organisasi secara jelas, dan (4) dapat menunjukkan alur suatu proses secara jelas. Sedangkan kelemahan-kelemahan dari media tiga dimensi adalah (1) tidak bisa menjangkau sasaran dalam jumlah yang besar, dan (2) penyimpanannya memerlukan ruang yang besar dan perawatan yang rumit. 
b.      Contoh Media Pembelajaran Tiga Dimensi 
Di bawah ini adalah contoh-contoh media pembelajaran tiga dimensi yang dapat diterapkan dapat proses pembelajaran (Santyasa, 2007), yaitu:
1.      Belajar benda sebenarnya melalui widya wisata. Suatu kegiatan belajar yang dilaksanakan melalui kunjungan ke suatu tempat di luar kelas sebagai bagian integral dari seluruh kegiatan akademis dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan dengan tujuan agar siswa memperoleh pengalaman langsung sehingga proses belajar menjadi lebih bermakna, membangkitkan minat siswa untuk menyelidiki, melatih seni hidup bersama dan tanggung jawab bersama dan mengintegrasikan pengajaran di kelas dengan kehidupan dunia nyata.
2.      Belajar benda sebenarnya melalui specimen. Terminology benda sebenarnya digolongkan atas dua, yaitu objek dan bendah contoh (specimen). Objek adalah semua benda yang masih dalam keadaan asli dan alami, sedangkan specimen adalah benda-benda asli atau sebagian asli yang digunakan sebagai contoh. Namun adal juga benda asli tidak alami atau benda asli buatan, yaitu jenis benda asli yang telah dimodifikasi bentuknya oleh manusia. Contoh-contoh specimen benda yang masih hidup adalah akuarium, terrarium, kebun binatang, kebun percobaan, dan insektarium. Contoh-contoh benda specimen yang sudah mati adalah herbarium, tersidermi, awetan dalam botol, awetan dalam cairan plastic. Contoh-contoh specimen benda yang tak hidup adalah berbagai benda yang berasal dari batuan dan mineral.
3.      Belajar melalui media tiruan. Belajar melalui media tiruan dilakukan untuk pokok bahasan tertentu yang tidak mungkin dapat dilakukan melalui pengalaman langsung atau melalui benda sebanarnya.ada beberapa tujuan belajar dengan menggunakan media tiruan yaitu mengatasi kesulitan yang muncul ketika memperlajari objek yang terlalu besar atau terlalu kecil, untuk mempelajari objek yang telah menyejarah dimasa lampau, untuk mempelajari objek-bjek yang tak terjangkau secar fisik atau mudah dijangkau tetapi tidak memberikan ketengan yang memadai (misalnya mata manusia, telinga manusia), untuk memperlajari konstruksi-konstruksi yang abstrak dan untuk memperlihatkan proses dari objek yang luas (misalnya proses peredaran planet).
4.      Peta timbul. Peta timbul secar fisik termasuk model lapangan adalah peta yang dapat menunjukkan tinggi rendahnya permukaan bumi. Peta timbul memiliki ukuran panjang, lebar, dan dalam. Peta timbul dapat dibuat oleh guru bersama siswa sehingga dapat memupuk daya kreasi, daya imajinasi dan memupuk rasa tanggung jawab bersama terhadap hasil karya bersama.
5.      Globe. Globe adalah bentuk tiruan dari bentuk bumi yang diperkecil. Globe dapat memberikan keterangan tentang permukaan bumi pada umumnya dan khususnya tentang lingkungan bumi, aliran sungai, dan langit.
6.      Boneka. Boneka merupakan salah satu model perbandingan benda tiruan dari bentuk manusia dan atau hewan. Sebagai media pendidikan dalam penggunaannya boneka dimainkan dalam bentuk sandiwara boneka. 
B.     Kerangka Pikir
Matematika merupakan mata pelajaran yang masih sulit untuk dipahami atau dimengerti oleh siswa. Sama halnya dengan siswa kelas V SD Inpers Bertingkat Bara-Baraya yang masih mengalami kesulitan belajar khususnya mata pelajaran matematika. Dalam pelaksanaan pembelajaran terutama pembelajaran matematika masih banyak kendala yang dihadapi oleh guru. Rendahnya hasil belajar matematika siswa kelas V sebabkan oleh beberapa faktor baik dari guru maupun siswa, diantaranya (1) masih banyaknya siswa yang pasif dalam proses pembelajaran (2) kurangnya minat dan motivasi siswa dalam menerima materi pembelajaran (3) rendahnya pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan, (4) proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru kurang mengaktifkan siswa, (5) penggunaaan media dan penerapan model pembelajaran yang belum maksimal, (6) pengelolaan kelas yang masih kurang.
 Agar peningkatan hasil belajar matematika yang diharapkan tercapai maka peneliti mencoba menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan menggunakan media pembelajaran tiga dimensi. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan menggunakan media pembelajaran tiga dimensi dapat meningkatkan hasil belajar matematika, karena siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil secara heterogen sehingga memungkinkan siswa untuk berdiskusi satu sama lain dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok. Selain itu, penggunaan media pembelajaran tiga dimensi juga sangat menunjang proses pembelajaran karena dapat membantu guru dalam menyampaikan pesan-pesan atau informasi pembelajaran kepada siswa serta dapat memperlancar proses pembelajaran khususnya interaksi antara guru dan siswa sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih efektif dan efisien.C.    Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka pikir yang telah dikemukakan, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah “jika model pembelajaran kooperatif tipe STAD diterapkan dengan menggunakan media pembelajaran tiga dimensi, maka hasil belajar matematika kelas V SD Inpres Bertingkat Bara-Baraya meningkat”.
III.             METODE PENELITIAN
A.    Pendekatan dan Jenis Penelitian
1.      Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggnuakan pendekatan kualitatif yang menuntut peneliti sebagai instrument utama sekaligus sebagai pengumpul data. Dalam penelitian ini terjadi kerjasama antara peneliti dan guru kelas.
2.      Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (class room action research/CAR) yang dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki mutu proses pembelajaran di dalam kelas. Dalam penelitian tindakan kelas, peneliti atau guru dapat melihat sendiri praktik pembelajaran atau bersama guru lain ia dapat melakukan penelitian terhadap murid dilihat dari segi aspek interaksinya dalam proses pembelajaran. Menurut Arikunto (2008: 3) Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah “suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar beruapa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebiah kelas secara bersama.” 
Jenis PTK yang dipilih adalah PTK partisipan dengan model sederhana yakni model yang terdiri atas empat komponen dalam satu siklus, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi atau pengamatan, dan (4) refleksi. Secara sistematik desain PTK dapat dilihat pada gambar berikut.


Oval: SIKLUS I
Oval: SIKLUS II
Horizontal Scroll: Kesimpulan
 






















Gambar 3.1 Siklus Rencana Penelitian

B.     Fokus Penelitian
Berdasarkan kajian secara empirik, maka dapat ditetapkan fokus penelitian sebagai berikut:
1.      Faktor siswa, yaitu melihat apakah siswa memahami materi pembelajaran melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan menggunakan media pembelajaran tiga dimensi.
2.      Faktor guru, yaitu memperhatikan bagaimana persiapan materi dan kesesuaian proses pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan menggunakan media pembelajaran tiga dimensi.
C.    Setting Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SD Inpres Bertingkat Bara-Baraya pada siswa kelas V yang beralamat di Jl. Abu Bakar Lambogo melalui program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dimaksudkan agar penelitian berjalan lancar. Lokasi penelitian ini dipilih karena adanya akses dengan kepala sekolah setempat sehingga memudahkan untuk berkomunikasi dengan guru kelas mengenai proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas dan memudahkan peneliti melaksanakan penelitiannya. Selain itu peneliti memilih sekolah tersebut dengan pertimbangan (1) Masih kurangnya motivasi belajar siswa sehingga masih banyaknya siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi yang disajikan oleh guru, dan (2) Penerapan Media pembelajaran dalam proses pembelajaran masih kurang diterapkan oleh guru.
Yang menjadi subjek penelitian adalah murid kelas V SD Inpres Bertingkat Bara-Baraya dengan jumlah murid sebanyak 34 orang yang terdiri dari 18 orang perempuan dan 16 orang laki-laki.
D.    Rancangan Tindakan
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang akan dilaksanakan dengan dua siklus masing-masing siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Siklus I dilakukan dengan 2 kali pertemuan begitupun dengan siklus II. Kegiatan pada siklus II merupakan pengulangan dan perbaikan dari siklus I.
1.      Gambaran tentang Siklus I
Pada pelaksanaan siklus I, ada 4 tahap yang dilakukan yaitu sebagai berikut:
a.       Tahap Perencanaan
Dalam tahap ini dilakukan kegiatan pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran yang menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan menggunakan media pembelajaran tiga dimensi kemudian dilanjutkan dengan membuat lembar observasi serta menyusun evaluasi belajar untuk mengathui adakah peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan menggunakan media pembelajaran tiga dimensi.
b.      Tahap Pelaksanaan Tindakan
Dalam tahap ini, pelaksanaan tindakan yang dilakukan adalah menyajikan materi dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan menggunakan media pembelajarn tiga dimensi. Dalam penyajian bahan pelajaran diupayakan setiap langkah pelaksanaan tindakan dapat mengarah pada inti permasalahan dimulai dari yang sederhana. Pelaksanaan tindakan dalam kegiatan penelitian tindakan kelas terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Adapun urutan secara garis besar adalah sebagai berikut:
1)      Tes pengetahuan awal
2)      Penyajian materi
3)      Belajar kelompok
4)      Tes akhir
5)      Pemberian penghargaan
c.       Tahap Observasi
Objek yang diobservasi adalah kegiatan belajar murid dan prose pembelajaran yang disajikan oleh guru. Observasi dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Hal-hal yang dicatat adalah penyampaian materi pembelajaran oleh guru kepada murid sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai, beberapa kelompok yang dibentuk oleh guru, tes/kuis yang diberikan kepada siswa secara individual, guru memfasilitasi siswa untuk membuat kesimpulan, pemberian penghargaan kepada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar.
d.      Tahap Refleksi  
Refleksi dilakukan untuk melihat proses pelaksanaan tindakan dan hasil pemahaman siswa. Dari hasil yang didapatkan peneliti akan merefleksikan diri dengan melihat data observasi dan tes akhir, apakah kegiatan yang dilakukan sudah dapat meningkatkan hasil belajar matematika dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan menggunakan media pembelajaran tiga dimensi pada siswa kelas V. Hasil analisis data yang diperoleh dalam tahap ini akan dipergunakan sebagi acuan untuk melaksanakan siklus selanjutnya.

2.      Gambaran tentang Siklus II
Kegiatan yang dilakukan pada siklus II adalah pengulangan dan perbaikan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan pada siklus I yang diuraikan sebagai berikut:
a.       Tahap Perencanaan
Dalam tahap ini dilakukan kegiatan yang sama seperti yang dilakukan pada siklus I dengan cara pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran yang menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan menggunakan media pembelajaran tiga dimensi kemudian dilanjutkan dengan membuat lembar observasi serta menyusun evaluasi belajar untuk mengathui adakah peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan menggunakan media pembelajaran tiga dimensi.
Dalam tahap ini sesuai dengan perencanaan siklus I dengan menambahkan ataupun mengurangi bagian-bagian yang dianggap perlu berdasarkan hasil refleksi pada siklus pertama.
b.      Tahap Pelaksanaan Tindakan
Dalam tahap ini, pelaksanaan tindakan yang dilakukan adalah melengkapi atau menambahkan kegiatan pembelajaran pada siklus I yaitu menyajikan materi dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan menggunakan media pembelajaran tiga dimensi. Dalam penyajian bahan pelajaran diupayakan setiap langkah pelaksanaan tindakan dapat mengarah pada inti permasalahan dimulai dari yang sederhana. Pada tahap ini diharapkan dapat menutupi ataupun memperbaiki kekurangan yang terdapat pada siklus sebelumnya.
c.       Tahap Observasi
Pada dasarnya tahap observasi pada siklus ini sama dengan pelaksanaan yahap pertama yaitu objek yang diobservasi adalah kegiatan belajar murid dan prose pembelajaran yang disajikan oleh guru. Observasi dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Hal-hal yang dicatat adalah penyampaian materi pembelajaran oleh guru kepada murid sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai, beberapa kelompok yang dibentuk oleh guru, tes/kuis yang diberikan kepada siswa secara individual, guru memfasilitasi siswa untuk membuat kesimpulan, pemberian penghargaan kepada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar.
d.      Tahap Refleksi
Pada tahap refleksi pada siklus II dilakukan untuk memperbaiki kelemahan dan kekurangan yang terdapat pada siklus I dengan mencamtumkan kelemahan dan kekurangan pembelajaran pada siklus II.
E.     Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data
1.      Obesrvasi
Observasi dilakukan untuk mengamati aktivitas dan kenerja siswa dan guru untuk dijadikan bahan kajian terkait dengan aktivitas pembelajaran yang berlangsung di kelas dengan menggunakan format observasi model checklist (Ö). 
2.      Tes
Menurut Sukamadinata (2007, 223) bahwa “tes hasil belajar kadang-kadang disebut juga tes prestasi belajar, mengkur hasil-hasil belajar yang dicapai siswa selama dalam kurun waktu tertentu”. Oleh karena itu, data tentang hasil belajar siswa diambil dengan menggunakan tes akhir setiap siklus dalam bentuk ujian. Tes yang digunakan merupakan tes yang dikembangkan oleh guru yang mengajar.
F.     Teknik Analisis Data dan Indikator Keberhasilan
1.      Teknik Analisi Data
Data yang dikumpulkan dianalisi dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Kriteria yang digunakan untuk mengukur hasil belajar matematika adalah norma absolute skala lima sebagai pedoman dikemukakan oleh Safari (2003: 78)
a.       Hasil belajar dikategorikan sangat tinggi dengan nilai 85-100
b.      Hasil belajar dikategorikan tinggi dengan nilai 70-84
c.       Hasil belajar dikategorikan cukup dengan nilai 55-69
d.      Hasil belajar dikategorikan kurang dengan nilai 40-54
e.       Hasil belajar dikategorikan sangat kurang dengan nilai 0-39
2.      Indikator Keberhasilan
Penelitian dikatakan berhasil apabila terjadi peningkatan hasil belajar siswa terhadap materi pelajaran setelah diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan menggunakan media pembelajaran tiga dimensi. Siswa kelas V SD Inpers Bertingkat Bara Baraya dianggap tuntas apabila terdapat 75% siswa yang memperoleh skor minimal 70, maka kelas dianggap tuntas secara klasikal.
G.    Jadwal Pelaksanaan Penelitian
Peneliti merencakan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan menggunakan media pembelajaran tiga dimensi pada siswa kelas V dalam meningkatkan hasil belajar matematika.  Adapun jadwal pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut:

No
Kegiatan Penelitian
Waktu Efektif Pelaksanaan Tindakan Kelas
Bulan I
Bulan II
Bulan III
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
A. 
Persiapan

1.      Pendekatan/Negoisasi












2.      Penyusunan Proposal












3.      Seminar Proposal












4.      Perizinan 












5.      Pertemuan dengan Pihak Sekolah












B.
Pelaksanaan PTK

1.      Pelaksanaan Siklus I












2.      Pelaksanaan Siklus II












3.      Pengumpulan Data












4.      Analisis Data












5.      Pembuatan Skripsi












C.
Evaluasi Hasil PTK

1.      Ujian Meja Skripsi












2.      Revisi dan Penggandaan Skripsi












3.      Penyerahan Skripsi












Tabel 3.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian





DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Azhar. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Azhmi, Fauzani. 2011. Meningkatkan Prestasi Belajar Sisea dengan Menggunakan Model Pembelajaran Koopratif Tipe Time Token dalam Pembelajaran Geometri Dimensi Tiga di Kelas X.2 SMAN 1 Anjir Muara Tahun Pelajaran 2010/2011. Banjarmasin: STKIP-PGRI.

Daryanto dan Muljo Raharjo. 2012. Model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta: Gava Media.

Estiningrum, Fahrida. 2005. Kefektifan Penggunaan Media Gambar dalam Meningkatkan Pemahaman Berhitung pada Mata Pelajaran Matematika Siswa Kelas I SD Negeri Pringtulis 02 Kec.Nalumsari Kab. Jepara. Semarang: tidak diterbitkan

Huda, Miftahul. 2012. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ihsan, Fuad. 2008. Dasar-Dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Ilmi, Khairil. 2011. Penggunaan Pembelajaran Kooperatif Tipe Quick on the Draw (QD) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pokok Bahasan Himpunan Siswa Kelas VII A SMPN 1 Belawang Kab. Batola Tahun Ajaran 2010/2011. Banjarmasin: STKIP-PGRI.

Rozaqmuala. 2012. Macam-Macam Media Pembelajaran. (http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2256715-macam-macam-media-pembelajaran/) di akses pada hari Minggu tanggal 14 April jam 8.13 WITA.

Rusminah. 2011. Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi Bangun Segiempat dengan Model Pembelajarn Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray di Kelas VII SMP Negeri 23 Banjarmasin. Banjarmasin STKIP-PGRI.

Safari. 2003. Evaluasi Pembelajaran. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Tenaga Kependidikan.

Santyasa, I Wayan. 2007. Landasan Konseptual Media Pembelajaran. Denpasar: Undiksha.

Sari, Septiati Norita. 2012. Pengembangan Media Chart Tiga Dimensi (3D) Pembelajaran Menjahit Celana pada Mata Pelajaran Keterampilan PKK Siswa Kelas VIII Di SMP N 16 Yogyakarta. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Sidharta, Arief. 2005. Media Pembelajaran. Bandung: Departemen Pendidikan Nasional.
Sukamadinata, N.S. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT Remaja Rosdakarya.



0 komentar:

Poskan Komentar

JASA PEMBUATAN PTBK

BUTUH PTBK DAN ADMINISTRASI BK? HUB KAMI DI 081222940294 DETAIL HARGA KLIK DISINI

Popular BP BK Posts

BUTUH PTBK DAN ADMINISTRASI BK? HUB KAMI DI 081222940294

BUTUH PTBK DAN ADMINISTRASI BK? HUB KAMI DI 081222940294
JASA PTBK