bp bk smp Selamat Datang di blog Kami. Silahkan Browsing dan Cari data anda
bp bk lengkap

Upaya Bimbingan Konseling dalam Pengembangan Karakter Pada Siswa

Sabtu



JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK

HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini

Atau Cek FB Kami Disini


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Bimbingan dan Konseling merupakan kegiatan yang bersumber pada kehidupan manusia. Kenyataan menunjukkan bahwa manusia di dalam kehidupannya menghadapi persoalan-persoalan atau masalah yang silih berganti.. Manusia tidak sama satu dengan yang lain, baik dalam sifat maupun kemampuannya. Ada manusia yang sanggup mengatasi persoalan tanpa bantuan pihak lain, tetapi tidak sedikit manusia yang tidak mampu mengatasi persoalan bila tidak dibantu orang lain.
Manusia adalah sasaran pendidikan. Pendidikan bermaksud membantu peserta didik untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi kemanusiaannya. Peserta didik merupakan pribadi-pribadi yang sedang berada dalam proses berkembang kearah kematangan. Masing-masing peserta didik memiliki karakteristik pribadi yang unik. Dalam arti terdapat perbedaan individual diantara mereka, seperti menyangkut aspek kecerdasan, emosi, sosiabilitas, sikap, kebiasaan, dan kemampuan penyesuaian diri. Dalam dunia pendidikan, peserta didik pun tidak jarang mengalami masalah-masalah, sehingga tidak jarang dari peserta didik yang menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat.
Berkenaan dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh peserta didik, maka perlu adanya pendekatan-pendekatan melalui pelaksanaan bimbingan dan konseling. Disini, guru memiliki perananan yang sangat penting karena guru merupakan sumber yang sangat menguasai informasi tentang keadaan siswa atau pesrta didik.
Oleh karena itu, layanan bimbingan dan konseling di sekolah sangat dibutuhkan, karena banyaknya masalah peserta didik di sekolah, besarnya kebutuhan peserta didik akan pengarahan diri dalam memilih dan mengambil keputusan. Layanan bimbingan dan konseling diharapkan membantu peserta didik dalam pengenalan diri, pengenalan lingkungan dan pengambilan keputusan, serta memberikan arahan terhadap perkembangan peserta didik, tidak hanya untuk peserta didik yang bermasalah tetapi untuk seluruh peserta didik. Layanan bimbingan dan konseling tidak terbatas pada peserta didik tertentu  atau yang perlu  ‘dipanggil’  saja, melainkan untuk seluruh peserta didik.
B.       Rumusan Masalah
1.         Apa pengertian Bimbingan dan Konseling?
2.         Apa fungsi, tujuan, prinsip, dan asas Bimbingan dan Konseling di sekolah?
3.         Bagaimana karakteristik siswa SD, SMP, dan SMA?
4.         Apa masalah-masalah siswa di sekolah?
5.         Apa saja pendekatan-pendekatan dalam Bimbingan dan Konseling sebagai upaya mengatasi masalah-masalah siswa di sekolah?
6.         Bagaimana upaya Bimbingan dan Konseling dalam pengembangan karakter siswa?
C.      Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian Bimbingan dan Konseling.
2.      Untuk mengetahui fungsi, tujuan, prinsip, dan asas Bimbingan dan Konseling di sekolah.
3.      Untuk mengetahui karakteristik siswa SD, SMP, dan SMA.
4.      Untuk mengetahui masalah-masalah siswa di sekolah.
5.      Untuk mengetahui pendekatan-pendekatan dalam Bimbingan dan Konseling sebagai upaya mengatasi masalah-masalah siswa di sekolah.
6.      Untuk mengetahui upaya Bimbingan dan Konseling dalam pengembangan karakter siswa.


BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Bimbingan dan Konseling
Dalam mendefinisikan istilah bimbingan, para ahli bidang bimbingan konseling memberikan pengertian yang berbeda-beda. Meskipun demikian, pengertian yang mereka sajikan memiliki satu kesamaan arti bahwa bimbingan merupakan suatu proses pemberian bantuan.
1.      Pengertian Bimbingan
Menurut Abu Ahmadi (1991: 1), bahwa bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu (peserta didik) agar dengan potensi yang dimiliki mampu mengembangkan diri secara optimal dengan jalan memahami diri, memahami lingkungan, mengatasi hambatan guna menentukan rencana masa depan yang lebih baik. Hal senada juga dikemukakan oleh Prayitno dan Erman Amti (2004: 99), Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, atau orang dewasa; agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Sementara Bimo Walgito (2004: 4-5), mendefinisikan bahwa bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan hidupnya, agar individu dapat mencapai kesejahteraan dalam kehidupannya. Chiskolm dalam McDaniel, dalam Prayitno dan Erman Amti (1994: 94), mengungkapkan bahwa bimbingan diadakan dalam rangka membantu setiap individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri.
2.      Pengertian Konseling
Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang dimana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar. Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaannya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang. (Tolbert, dalam Prayitno 2004 : 101).
Jones (Insano, 2004 : 11) menyebutkan bahwa konseling merupakan suatu hubungan profesional antara seorang konselor yang terlatih dengan klien. Hubungan ini biasanya bersifat individual atau seorang-seorang, meskipun kadang-kadang melibatkan lebih dari dua orang dan dirancang untuk membantu klien memahami dan memperjelas pandangan terhadap ruang lingkup hidupnya, sehingga dapat membuat pilihan yang bermakna bagi dirinya.
Dari semua pendapat di atas dapat dirumuskan dengan singkat bahwa Bimbingan Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling (face to face) oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi konseli serta dapat memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki dan sarana yang ada, sehingga individu atau kelompok individu itu dapat memahami dirinya sendiri untuk mencapai perkembangan yang optimal, mandiri serta dapat merencanakan masa depan yang lebih baik untuk mencapai kesejahteraan hidup.
B.       Fungsi, Tujuan, Prinsip, dan Asas Bimbingan dan Konseling di Sekolah
1.      Fungsi Bimbingan dan Konseling
Fungsi merupakan bagian utama dari cabang kerja yang selanjutnya terbagi menjadi aktivitas. Dengan demikian yang dimaksud dengan fungsi Bimbingan Konseling adalah hal-hal yang terkait dengan aktivitas yang dilakukan dalam pelaksanaan program Bimbingan dan Konseling di sekolah.
Menurut Priyatno dan Amati E. (2004: 194) menyebutkan bahwa fungsi Bimbingan dan Konseling di sekolah adalah :
a)         Fungsi pemahaman,
b)        Fungsi pencegahan,
c)         Fungsi pengentasan,
d)        Fungsi pemeliharaan dan pengembangan,
Menurut Nurihsan A.J. (2006: 8-9) menyebutkan bahwa Bimbingan Konseling minimal mempunyai 4 fungsi :
a)         Fungsi pengembangan,
b)        Fungsi penyaluran,
c)         Fungsi adaptasi,
d)        Fungsi penyesuaian,
Menurut Tohirin menyebutkan bahwa penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling khususnya di sekolah atau madrasah memiliki 9 fungsi :
a)         Fungsi pencegahan (preventif),
b)        Fungsi pemahaman,
c)         Fungsi pengentasan,
d)        Fungsi pemeliharaan,
e)         Fungsi penyaluran,
f)         Fungsi penyesuaian,
g)        Fungsi pengembangan,
h)        Fungsi perbaikan,
i)          Fungsi advokasi,
Berikut penjelasan secara singkat tentang fungsi Bimbingan dan Konseling di sekolah dari pendapat Nurihsan A.J.
a)         Fungsi Pemahaman
Yaitu fungsi Bimbingan dan Konseling menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan kepentingan pengembangan siswa.
b)        Fungsi Penyaluran
Yaitu fungsi yang dapat membantu siswa dalam memilih jurusan, jenis sekolah, ataupun pekerjaan yang sesuai dengan minat, bakat, dan ciri kepribadian lainnya.
c)         Fungsi Adaptasi
Yaitu fungsi Bimbingan dan Konseling dalam hal membantu petugas-petugas di sekolah khususnya guru untuk mengadaptasikan program pendidikan dengan minat kemampuan, kebutuhan peserta didik.
d)        Fungsi Penyesuaian
Yaitu fungsi Bimbingan dan Konseling dalam rangka membantu siswa untuk memperoleh kemajuan dan berkembang secara optimal.
Bimbingan dan Konseling diarahkan pada terselenggaranya dan terpenuhinya keperluan akan bantuan dalam hal pendekatan, informasi dan orientasi, konsultasi dan komunikasi kepada siswa dan pihak-pihak yang berkepentingan.
2.      Tujuan Bimbingan dan Konseling
Menurut Marbun (2003: 376), tujuan merupakan hasil akhir yang ditentukan agar dicapai dalam waktu tertentu oleh perusahaan, organisasi atau orang yang dibebani tanggung jawab untuk itu. Demikian pula, dalam Bimbingan dan Konseling di sekolah, khususnya sekolah dasar (SD) juga memiliki tujuan yang akan dicapai. Di bawah ini disampaikan beberapa pendapat ahli berkaitan dengan tujuan Bimbingan dan Konseling di sekolah sebagai berikut.
Menurut Nurihsan A.J. (2006) membedakan antara tujuan Bimbingan dan tujuan Konseling. Tujuan layanan bimbingan dijelaskan Nurihsan (2006: 8) agar individu dapat :
a)         Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karier, serta kehidupan pada masa yang akan datang,
b)        Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin,
c)         Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat, serta lingkungan kerjanya, dan
d)        Mengatasi hambatan serta kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat ataupun lingkungan kerja,
Adapun tujuan konseling pada umumnya dan di sekolah pada khususnya menurut Shertzer dan Stone (dalam Nurihsan, 2006: 12), sebagai berikut:
a)         Mengadakan perubahan perilaku pada klien sehingga memungkinkan hidupnya lebih produktif dan memuaskan,
b)        Memelihara dan mencapai kesehatan mental yang positif,
c)         Penyelesaian masalah,
d)        Mencapai keefektifan pribadi,
e)         Mendorong individu mampu mengambil keputusan yang penting bagi dirinya.
3.      Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling
Dalam memberikan layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan. Prinsip-prinsip tersebut dikelompokan menjadi :
a)         Prinsip Umum
1)      Sikap dan tingkah laku seseorang merupakan refleksi dari kepribadian seseorang,
2)      Layanan Bimbingan dan Konseling yang berhasil diawali dengan telaah kebutuhan dan kesulitan individu,
3)      Bimbingan dan Konseling adalah bantuan yang pada akhirnya klien dapat memecahkan masalahnya sendiri dengan kemampuaannya sendiri,
4)      Dalam proses Bimbingan dan Konseling, klien harus aktif, dinamis, banyak ide, sehingga proses Bimbingan dan Konseling berpusat pada klien,
5)      Apabila permasalahan individu tidak dapat ditangani oleh petugas Bimbingan dan Konseling, maka diperlukan reveral,
6)      Program Bimbingan dan Konseling tidak boleh bertentangan dengan program pendidikan,
7)      Petugas Bimbingan dan Konseling hendaknya memiliki kemampuan professional sebagai konselor,
8)      Dalam program Bimbingan dan Konseling hendaknya dilakukan evaluasi secara terprogram untuk mengetahui keberhasilannya.
b)        Prinsip yang berhubungan dengan sasaran Bimbingan dan Konseling.
Sasaran layanan Bimbingan dan Konseling adalah klien. Agar berhasil, layanan Bimbingan dan Konseling perlu memperhatikan beberapa prinsip, antara lain :
1)      Bimbingan dan Konseling melayani semua siswa tanpa pandang bulu,
2)      Program Bimbingan dan Konseling berpusat pada siswa,
3)      Bimbingan dan Konseling harus menjangkau keunikan individu,
4)      Layanan Bimbingan dan Konseling harus berdasar perkembangan individu,
5)      Dalam memberikan layanan Bimbingan dan Konseling harus dipahami mengenai kesamaan dan perbedaan setiap individu.
c)         Prinsip yang berhubungan dengan petugas Bimbingan dan Konseling
1)      Petugas Bimbingan dan Konseling melakukan tugasnya sesuai dengan kemampuan dan kewenangan masing-masing,
2)      Petugas Bimbingan dan Konseling dipilih berdasar kualifikasi kemampuan dan minat,
3)      Petugas Bimbingan dan Konseling pada dasarnya perlu mendapat kesempatan untuk meningkatkan dan mengembangkan diri,
4)      Petugas Bimbingan dan Konseling perlu mendasarkan diri atas data-data yang valid dari klien,
5)      Petugas Bimbingan dan Konseling harus menjaga kerahasiaan pribadi kliennya,
6)      Petugas Bimbingan dan Konseling perlu memperhatikan hasil-hasil penelitian bimbingan dalam rangka pengembangan kurikulum di sekolah.
d)        Prinsip-prinsip Konseling
1)      Konseling merupakan alat yang sangat penting dalam keseluruhan program bimbingan,
2)      Dalam konseling terlibat dua individu, konselor dan klien,
3)      Interview merupakan media dalam proses konseling,
4)      Konseling menitikberatkan masalah sikap dan mental,
5)      Konseling menitik beratkan penghayatan emosional dari pada intelektual,
6)      Konseling terjadi dalam suatu jalinan hubungan khas antara konselor dan klien,
7)      Konseling dilakukan oleh orang yang memiliki kualifikasi professional tertentu,
4.      Asas-asas Bimbingan dan Konseling
a)      Asas Kerahasiaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang peserta didik (konseli) yang menjadi sasaran layanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin.
b)      Asas Kesukarelaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan peserta didik (konseli) mengikuti/menjalani layanan/kegiatan yang diperlukan baginya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut.
c)      Asas Keterbukaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar peserta didik (konseli) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan peserta didik (konseli). Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri peserta didik yang menjadi sasaran layanan/kegiatan. Agar peserta didik dapat terbuka, guru pembimbing terlebih dahuu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.
d)     Asas Kegiatan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar peserta didik (konseli) yang menjadi sasaran layanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan layanan/kegiatan bimbingan. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong peserta didik untuk aktif dalam setiap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya.
e)      Asas Kemandirian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yakni: peserta didik (konseli) sebagai sasaran layanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi siswa-siswa yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian peserta didik.
f)       Asas Kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran layanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan peserta didik (konseli) dalam kondisinya sekarang. Layanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang.
g)      Asas Kedinamisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.
h)      Asas Keterpaduan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis, dan terpadu. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihak-pihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Koordinasi segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
i)        Asas Keharmonisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada, yaitu nilai dan norma agama, hukum dan peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan yang berlaku. Bukanlah layanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. Lebih jauh, layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (konseli) memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai dan norma tersebut.
j)        Asas Keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis layanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.
k)      Asas Alih Tangan Kasus, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain ; dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain.
C.      Karakteristik siswa SD, SMP, dan SMA
1.      Bentuk-bentuk Karakteristik Siswa SD
a)         Mereka secara alamiah memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan tertarik akan dunia sekitar yang mengelilingi mereka sendiri.
b)        Mereka senang bermain dan lebih suka bergembira / riang.
c)         Mereka suka mengatur dirinya untuk menangani berbagai hal yang dihadapinya, mengeksplorasi suatu situasi dan mencobakan usaha-usaha baru dan tidak akan pernah mau diatur oleh orang lain.
d)        Mereka belajar dengan cara mengikuti atau berinisiatif dari apa yang temannya/orang lain dapat.
e)         Adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang kongkrit.
f)         Amat realistik, ingin tahu dan ingin belajar.
g)        Menjelang akhir masa ini telah ada minat terhadap hal-hal dan mata pelajaran khusus.
h)        Pada umumnya anak menghadap tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha menyelesaikan sendiri.
i)          Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi sekolah.
j)          Anak pada masa ini gemar membentuk kelompok sebaya, biasanya untuk bermain bersama-sama.
2.  Bentuk-bentuk Karakteristik Siswa SMP
a)      Sering gelisah.
b)      Pertentangan pendapat dengan lingkungan khususnya orang tua.
c)      Aktivitas kelompok.
d)     Keinginan mencoba segala sesuatu.
e)      Emosi yang meluap-luap.
f)       Mulai tertarik dengan lawan jenis.
3.  Bentuk-bentuk Karakteristik Siswa SMA
a)      Adanya kekurangseimbangan proporsi tinggi dan berat badan.
b)      Mulai timbulnya ciri-ciri sekunder.
c)      Timbulnya keinginan untuk mempelajari dan menggunakan bahasa asing.
d)     Kecenderungan ambivalensi antara keinginan menyendiri dengan keinginan bergaul dengan orang banyak serta antara keinginan untuk bebas dari dominasi dengan kebutuhan bimbingan dan bantuan dari orang tua.
e)      Senang membandingkan kaidah-kaidah, nilai-nilai etika, atau norma dengan kenyataan yang terjadi dalam kehidupan orang dewasa.Mulai mempertanyakan secara skeptis mengenai eksistensi (keberadaan) dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan.
f)       Reaksi dan ekspresi emosi masih labil.
g)      Kepribadiannya sudah menunjukkan pola tetapi belum terpadu.
h)      Kecenderungan minat dan pilihan karier sudah relatif lebih jelas.
D.      Masalah-masalah Siswa di Sekolah
Masalah adalah sesuatu yang menghambat, merintangi, mempersulit bagi orang dalam usahanya mencapai sesuatu. Bentuk konkrit dari hambatan/rintangan itu dapat bermacam-macam, misalnya godaan, gangguan dari dalam atau dari luar, tantangan yang ditimbulkan oleh situasi hidup. Masalah yang timbul dalam kehidupan siswa di sekolah beraneka ragam, diantaranya sebagai berikut:
1.      Masalah Perkembangan Individu
Setiap individu dilahirkan ke dunia dengan membawa hereditas tertentu. Hal ini berarti bahwa karakteristik individu diperoleh melalui pewarisan dari pihak orang tuanya. Karakteristik tersebut menyangkut fisik dan psikis atau sifat-sifat mental. Hereditas merupakan aspek bawaan dan memiliki potensi untuk berkembang. Seberapa jauh perkembangan individu itu terjadi dan bagaimana kualitas perkembangannya, bergantung kepada kualitas hereditas dan lingkungan yang mempengaruhinya.
Lingkungan merupakan faktor penting disamping hereditas yang menentukan perkembangan individu. Perkembangan dapat berhasil dengan baik, jika faktor-faktor tersebut bisa saling melengkapi. Untuk mencapai perkembangan yang baik harus ada asuhan terarah. Asuhan dalam perkambangan dengan melalui proses belajar sering disebut pendidikan.
Tugas-tugas perkembangan ini berkaitan dengan sikap, perilaku atau keterampilan yang seharusnya dimiliki oleh individu, sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. Hurlock (1982) mengemukakan bahwa tugas-tugas perkembangan merupakan social expectations (harapan-harapan sosial masyarakat). Dalam arti setiap kelompok budaya mengharapkan para anggotanya menguasai keterampilan tertentu yang penting dan memperoleh pola perilaku yang disetujui bagi berbagai usia sepanjang rentang kehidupan.
Dalam mencapai  tugas-tugas perkembangannya, tidak sedikit yang mengalami kegagalan. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor: (1) tidak atau kurang adanya bimbingan untuk memahami dan menguasai tugas-tugas perkembangan, (2) kurang memiliki motivasi untuk berkembang ke arah kedewasaan, (3) mengalami kesehatan yang buruk (sakit-sakitan), (4) cacat tubuh, (5) tingkat kecerdasan yang rendah, dan (6) iklim lingkungan yang kurang baik.
Kegagalan mencapai tugas-tugas perkembangan ini akan melahirkan perilaku yang menyimpang (delinquency)atau situasi kehidupan yang tidak bahagia. Penyimpangan perilaku yang dialami individu sebagai dampak dari tidak tertuntaskannya tugas-tugas perkembangan, akan bervariasi sesuai dengan fase perkembangannya.
Penyimpangan perilaku yang dialami anak berusia sekolah dasar diantaranya adalah (1) suka membolos dari sekolah, (2) malas belajar, dan (3) keras kepala. Pada usia remaja, penyimpangan perilaku yang dialaminya seperti (1) suka mengisolir diri, (2) meminum-minuman keras, (3) mengkonsumsi obat-obat terlarang atau narkoba, (4) tawuran, (5) malas belajar, (6) kurang bersikap hormat kepada orangtua dan orang dewasa lainnya. Sementara penyimpangan perilaku orang dewasa, diantaranya adalah (1) berselingkuh dengan istri/suami orang, (2) menelantarkan kehidupan keluarga (istri dan anak), (3) menjadi biang keladi kerusuhan (provokator) dalam masyarakat, (4) melakukan tindak kriminal, dan (5) tidak melaksanakan perintah agama.
Masa belajar disekolah atau perguruan tinggi merupakan masa transisi, sebagai proses untuk mencapai kematangan, dan masa persiapan untuk mencapai kehidupan dewasa yang berarti. Dalam hubungan ini sekolah atau perguruan tinggi mempunyai peranan yang penting dalam membantu siswa (mahasiswa) untuk mencapai taraf perkembangan, melalui penuntasan atau pencapaian tugas-tugas perkembangannya secara optimal.
Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan komponen pendidikan yang dapat membantu para siswa atau mahasiswa dalam proses perkembangannya. Demikianlah, pemahaman terhadap masalah perkembangan dengan prinsip-prinsipnya, yang merupakan kebutuhan yang mendasar bagi pelaksana pelayanan bimbingan dan konseling.

2.      Masalah Perbedaan Individu
Keunikan individu mengandung arti bahwa tidak ada dua orang individu yang sama persis dalam aspek pribadinya, baik aspek jasmani maupun rohani. Individu yang satu berbeda dengan individu lainya. Timbulnya perbedaan individu ini dapat dikembalikan kepada faktor pembawaan dan lingkungan sebagai komponen utama bagi terbentuknya keunikan individu. Perbedaan pembawaan akan memungkinkan perbedaan individu, meskipun dengan lingkungan yang sama, sebaliknya lingkungan yang berbeda akan memungkinkan timbulnya perbedaan individu, meskipun pembawaannya sama.
Di sekolah sering kali tampak masalah perbedaan individu ini, misalnya ada siswa yang sangat cepat dan ada yang sangat lambat belajar. Ada yang menonjol dalam kecerdasan tertentu tapi kurang cerdas pada bidang yang lain. Kenyataan ini akan membawa konsekuensi bagi pelayanan pendidikan, khususnya yang menyangkut bahan pelajaran, metode mengajar, alat alat pelajaran, pelayanan lainnya. Siswa akan menghadapi kesulitan dalam penyesuaian diri antara keunikan dirinya dengan tuntutan dalam lingkungannya.
Mengingat bahwa yang menjadi tujuan  pendidikan adalah perkembangan yang optimal dari setiap individu, maka masalah perbedaan individu ini perlu mendapat perhatian dalam pelayanan pendidikan. Dengan kata lain sekolah hendaknya memberikan pelayanan kepada para siswa secara individual sesuai dengan keunikan masing-masing. Usaha melayani siswa secara individual ini dapat diselenggarakan melalui program bimbingan dan konseling.
3.      Masalah Kebutuhan Individu
Kebutuhan merupakan dasar timbulnya tingkah laku individu. Individu bertingkah laku karena ada dorongan untuk memenuhi kebutuhannya. Pemenuhan kebutuhan ini sifatnya mendasar bagi kelangsungan hidup individu itu sendiri. Jika individu berhasil dalam memenuhi kebutuhannya, maka dia akan merasa puas, dan sebaliknya kegagalan dalam memenuhi kebutuhan ini akan banyak menimbulkan masalah baik bagi dirinya maupun bagi lingkungan.
Dengan berpegang kepada prinsip bahwa tingkah laku individu merupakan cara dalam memenuhi kebutuhannya, maka kegiatan belajar pada hakikatnya merupakan perwujudan usaha pemenuhan kebutuhan tersebut. Sekolah hendaknya menyadari hal tersebut, baik dalam mengenal kebutuhan-kebutuhan pada diri siswa, maupun dalam memberikan bantuan yang sebaik-baiknya dalam usaha memenuhi kebutuhan tersebut. Seperti telah dikatakan di atas, kegagalan dalam memenuhi kebutuhan ini akan banyak menimbulkan masalah-masalah bagi dirinya.
Pada umumnya secara psikologis dikenal ada dua jenis kebutuhan dalam diri individu yaitu kebutuhan biologis dan kebutuhan sosial/psikologis. Beberapa diantara kebutuhan-kebutuhan yang harus kita perhatikan ialah kebutuhan:
a)         memperoleh kasih sayang;
b)        memperoleh harga diri;
c)         untuk memperoleh pengharapan yang sama;
d)        ingin dikenal;
e)         memperoleh prestasi dan posisi;
f)         untuk dibutuhkan orang lain;
g)        merasa bagian dari kelompok;
h)        rasa aman dan perlindungan diri;
i)          untuk memperoleh kemerdekaan diri.
Pengenalan terhadap jenis dan tingkat kebutuhan seseorang (siswa) sangat diperlukan bagi usaha membantu mereka. Program bimbingan dan konseling merupakan salah satu usaha untuk membantu para siswa untuk memenuhi kebutuhannya secara wajar dan sesuai norma yang berlaku.
4.      Masalah Penyesuaian Diri dan Kesehatan Mental
Kegiatan atau tingkah laku pada hakikatnya merupakan cara pemenuhan kebutuhan. Banyak cara yang dapat ditempuh individu untuk memenuhi kebutuhannya, baik secara yang wajar maupun yang tidak wajar, cara yang disadari maupun cara yang tidak disadari. Yang penting untuk dapat memenuhi kebutuhan ini, individu harus dapat menyesuaikan antar kebutuhan dengan segala kemungkinan yang ada dalam lingkungan, Individu harus dapat menyesuaikan diri dengan berbagai lingkungan baik lingkungan sekolah, rumah maupum masyararakat.
Proses penyesuaian diri ini menimbulkan berbagai masalah terutama bagi diri individu sendiri. Terdapat 2 jenis proses penyesuain diri. Yaitu : (1) “Well adjusted” yaitu keadaan dimana individu berhasil memenuhi kebutuhannya sesuai dengan kebutuhannya sesuai dengan lingkungannya dan tanpa menimbulkan gangguan atau kerugian bagi lingkungannya. (2) Maladjusted yaitu keadaan dimana individu gagal dalam proses penyesuaian tersebut.
Untuk membantu para siswa agar tercegah dari sikap dan perilaku yang salah, maka pihak sekolah hendaknya memberikan bantuan agar setiap siswa mampu menyesuaikan diri dengan baik. Sekolah hendaknya menempatkan diri sebagai suatu lingkungan yang memberikan kemudahan-kemudahan untuk tercapainya penyesuaian yang baik.
5.      Masalah Belajar
Dalam seluruh proses pendidikan, belajar merupakan kegiatan inti. Pendidikan itu sendiri dapat diartikan sebagai bantuan perkembangan melalui kegiatan belajar. Secara psikologis belajar dapat diartikan sebagai proses memperoleh perubahan tingkah laku (baik dalam kognitif, afektif, maupun psikomotor) untuk memperoleh respons yang diperlukan dalam interaksi dengan lingkungan secara efisien.
Dalam kegiatan belajar dapat timbul berbagai masalah baik bagi pelajar itu sendiri maupun bagi pengajar. Misalnya bagaimana menciptakan kondisi yang baik agar berhasil, memilih metode dan alat-alat sesuai dengan jenis dan situasi belajar, membuat rencana belajar bagi siswa, menyesuaikan proses belajar dengan keunikan siswa, penilaian hasil belajar, diagnosis kesulitan belajar, dan sebagainya. Bagi siswa sendiri, masalah-masalah belajar yang mungkin timbul misalnya pengaturan waktu belajar, memilih cara belajar, menggunakan buku-buku pelajaran, belajar berkelompok, mempersiapkan ujian, memilih mata pelajaran yang cocok, dan sebagainya.
Sekolah mempunyai tanggung jawab yang besar dalam membantu siswa agar mereka berhasil dalam belajar. Untuk itu hendaknya sekolah memberikan bantuan kepada siswa dalam mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam kegiatan belajar. Di sinilah penting dan perlunya program bimbingan dan konseling untuk membantu agar mereka berhasil dalam belajar.
E.       Pendekatan-pendekatan Umum dalam Bimbingan dan Konseling
1.      Pendekatan Krisis
Pendekatan krisis adalah upaya bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami krisis atau masalah. Bimbingan bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah yang dialami individu. Dalam pendekatan krisis ini, konselor menunggu klien yang datang, selanjutnya mereka memberikan bantuan sesuai dengan masalah yang dirasakan klien.
Pendekatan ini banyak dipengaruhi oleh aliran psikoanalisis. Psikoanalisis terpusat pada pengaruh masa lampau sebagai suatu hal yang menentukan bagi fungsinya kepribadian pada masa kini. Pengalaman-pengalaman pada masa lima atau enam tahun pertama dari kehidupan individu dipandang sebagai akar dari krisis individu yang bersangkutan pada masa kini.
2.      Pendekatan Remedial
Pendekatan remedial adalah upaya bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami kesulitan. Tujuan bimbingan adalah untuk memperbaiki kesulitan-kesulitan yang dialami individu. Dalam pendekatan ini konselor memfokuskan pada kelemahan-kelemahan individu yang selanjutnya berupaya untuk memperbaikinya.
Pendekatan remedial ini banyak dipengaruhi oleh aliran psikologi behavioristik. Pendekatan behavioristik ini menekankan pada perilaku klien di sini dan saat ini. Perilaku saat ini dari individu dipengaruhi oleh suasana lingkungan pada saat ini pula. Oleh sebab itu untuk memperbaiki perilaku individu perlu ditata lingkungan yang mendukung untuk perbaikan perilaku tersebut.
3.      Pendekatan Preventif
Pendekatan preventif adalah upaya bimbingan yang diarahkan untuk mengantisipasi masalah-masalah umum individu dan mencoba mencegah jangan sampai terjadi masalah tersebut pada individu. Konselor berupaya untuk mengajarkan pengetahuan dan keterampilan untuk mencegah masalah tersebut.
Pendekatan kuratif ini tidak didasari oleh teori tertentu yang khusus. Pendekatannya dapat dikatakan mempunyai banyak teknik terapi, tetapi hanya sedikit konsep.


4.      Pendekatan Perkembangan
Bimbingan dan konseling yang berkembang pada saat ini adalah bimbingan dan konseling perkembangan. Visi bimbingan dan konseling adalah edukatif, pengembangan, dan outreach. Edukatif karena titik berat kepedulian bimbingan dan konseling terletak pada pencegahan dan pengembangan, bukan pada korektif atau terapeutik, walaupun hal itu tetap ada dalam kepedulian bimbingan dan konseling perkembangan. Pengembangan, karena titik sentral tujuan bimbingan dan konseling adalah perkembangan optimal dan strategi upaya pokoknya adalah memberikan kemudahan perkembangan  bagi individu melalui perekayasaan lingkungan perkembangan. Outreach, karena target populasi layanan bimbingan dan konseling tidak terbatas kepada individu bermasalah dan dilakukan secara individual tetapi meliputi ragam dimensi (masalah, target intervensi, setting, metode, lama waktu layanan) dalam rentang yang cukup lebar. Teknik yang digunakan dalam bimbingan dan konseling perkembangan adalah pembelajaran, pertukaran informasi, bermain peran, tutorial dan konseling.
E.   Upaya Bimbingan dan Konseling dalam Pengembangan Karakter Siswa
Karakter atau watak hakikatnya adalah ciri kepribadian yang berkaitan dengan pertimbangan nilai moralitas normatif yang berlaku. Kualitas watak seseorang bersifat relatif tetap dan akan tercermin pada penampilan kepribadiannya ditinjau dari sudut timbangan nilai moral normatif yang mencakup aspek emosional, intelektual, moral dan spiritual. Menurut Sharon Wisniewski dan Keneth Miller dalam proposal Prof. Moh Surya menyatakan bahwa karakter dipandang sebagai suatu hubungan timbal balik yang sehat antara diri dengan tiga hal pasti yaitu lingkungan eksternal (orang lain dan fisik), internal (diri), dan lingkungan spiritual (sesuatu yang maha besar dan abadi). Oleh karena itu, karakter akan menyatu dalam perilaku, mulai dari niat, fikiran, perasaan, ucapan, dan tindakan sebagai wujud totalitas kepribadian.
Saat ini sedang gencarnya mengenai pendidikan karakter sebagai upaya untuk menyelesaikan berbagai krisis yang menimpa bangsa. Pendidikan karakter dipandang sebagai satu solusi mendasar dalam membangun bangsa. Pendidikan karakter harus diajarkan secara kognitif dengan segala ketentuan akademiknya. Karakter tidak dapat dibangun hanya diajarkan tetapi diinternalisasikan melalui pendekatan secara holistik.
Pemerintah memberikan 18 nilai nilai pendidikan karakter yang dijabarkan sebagai berikut religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.
Ruang lingkup pendidikan karakter  meliputi dua aspek yang dimiliki manusia yaitu aspek kedalam dan aspek keluar. Aspek ke dalam atau aspek potensi meliputi aspek kognitif (olah pikir), afektif (olah hati), dan psikomotorik (olah raga). Aspek ke luar yaitu aspek manusia dalam konteks sosiokultural dalam interaksinya dengan orang lain meliputi interaksi dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Masing masing aspek memiliki ruang yang berisi nilai-nilai pendidikan karakter.
Konselor sebagai profesi yang profesional memiliki tantangan di abad 21 ini untuk memberikan pembaharuan dan mampu menghapus paradigma negatif tentang profesi konselor. Konselor sekolah mengarah pada profesi dan pembaharuan dalam memberikan bantuan kepada siswa tidak hanya menyelesaikan masalah akan tetapi membentuk karakter, mengembangkan kemampuan baik bakat ataupun minatnya serta dukungan kepada siswa dalam pencapaian prestasi akademik, advokasi keadilan sosial dan akuntabilitas konselor.
Program layanan bimbingan dan konseling di sekolah memiliki empat komponen program yaitu:
a)         Layanan dasar bimbingan atau layanan kurikulum bimbingan yang tujuan  pemberian layanannya adalah menunjang pencapaian semua tugas-tugas perkembangan siswa dalam indikatornya melalui bimbingan informatif secara klasikal atau kelompok.
b)        Layanan Responsif, pada dasarnya responsif merupakan bantuan kepada siswa yang bersifat "urgent", mengalami krisis, sesegera mungkin dan memerlukan bantuan khusus. Dalam layanan responsif konselor memberikan layanan baik berupa individual ataupun kelompok.
c)         Layanan perencanaan individual, layanan ini membantu siswa untuk membuat dan melaksanakan perencanaan pribadi, sosial, belajar/pendidikan dan  karier. Tujuan layanan ini membantu siswa memahami pertumbuhan dan perkembangannya, membuat perencanaan dan melaksanakannya untuk menuju tujuan perkembangan yang hendak dicapainya.
d)        Dukungan sistem, adalah dukungan kepada konselor dengan melibatkan beberapa pihak yang terkait dengan upaya membantu staf bimbingan.
Pendidikan karakter merupakan pekerjaan bersama sebagai pendidik untuk mampu membentuk karakter anak didik sehingga tercapai tugas perkembangannya secara optimal. Konselor sekolah menggunakan empat komponen untuk membetuk karakter siswa melalui kegiatan bimbingan dan konseling sehingga olah hati, pikir, raga dan rasa bisa terintegrasi dengan baik dan pada akhirnya tujuan dari pembentukan karakter bangsa, pendidikan nasional dan pelaksanaan bimbingan dan konseling dapat tercapai.


BAB III
PENUTUP
Simpulan
Bimbingan Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling (face to face) oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi konseli serta dapat memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki dan sarana yang ada, sehingga individu atau kelompok individu itu dapat memahami dirinya sendiri untuk mencapai perkembangan yang optimal, mandiri serta dapat merencanakan masa depan yang lebih baik untuk mencapai kesejahteraan hidup.
Fungsi Bimbingan dan Konseling diantaranya, fungsi pencegahan (preventif), fungsi pemahaman, fungsi pengentasan, fungsi pemeliharaan, fungsi penyaluran, fungsi penyesuaian, fungsi pengembangan, fungsi perbaikan, fungsi advokasi.
Tujuan konseling pada umumnya dan di sekolah pada khususnya adalah sebagai berikut:
a)         Mengadakan perubahan perilaku pada klien sehingga memungkinkan hidupnya lebih produktif dan memuaskan,
b)        Memelihara dan mencapai kesehatan mental yang positif,
c)         Penyelesaian masalah,
d)        Mencapai keefektifan pribadi,
e)         Mendorong individu mampu mengambil keputusan yang penting bagi dirinya.
Asas-asas Bimbingan dan Konseling, meliputi: asas kerahasiaan, asas kesukarelaan, asas keterbukaan, asas kegiatan. asas kemandirian, asas kekinian, asas kedinamisan, asas keterpaduan, asas keharmonisan, asas keahlian, asas alih tangan kasus.
Masalah yang timbul dalam kehidupan siswa di sekolah beraneka ragam, diantaranya sebagai berikut:
a)         Masalah perkembangan individu
b)        Masalah perbedaan individu
c)         Masalah kebutuhan individu
d)        Masalah penyesuaian diri dan kesehatan mental
e)         Masalah belajar
Macam-macam pendekatan dalam Bimbingan dan Konseling:
a)      Pendekatan krisis
b)      Pendekatan remedial
c)      Pendekatan preventif
d)     Pendekatan perkembangan


DAFTAR PUSTAKA
Tohirin. 2009. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah. Jakarta: Rajawali Pers.
Yusuf, Syamsu., dan A. Juntika Nurihsan. 2008. Landasan Bimbingan & Konseling. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Winkel, W.S. 1982. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah Menengah. Jakarta: PT Gramedia
Rubino Rubiyanto, dkk. 2008. Bimbingan Konseling SD. Surakarta: Badan Penerbit-FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Imron Fauzi. 2008. “Prinsip Bimbingan dan Konseling” (online),  (http://imronfauzi.wordpress.com/2008/06/15/prinsip-%E2%80%93-prinsip-bimbingan-dan-konseling/).
Sudrajat, Akhmad. (2010). Strategi Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling. [Online].
http://belajarpsikologi.com/pengertian-bimbingan-dan-konseling
http://capoecini.multiply.com/journal/item/41?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

0 komentar:

Poskan Komentar

JASA PEMBUATAN PTBK

BUTUH PTBK DAN ADMINISTRASI BK? HUB KAMI DI 081222940294 DETAIL HARGA KLIK DISINI

Popular BP BK Posts

BUTUH PTBK DAN ADMINISTRASI BK? HUB KAMI DI 081222940294

BUTUH PTBK DAN ADMINISTRASI BK? HUB KAMI DI 081222940294
JASA PTBK